Romli Tobing: Pemuda Pandeglang Bangkit Lawan Neokolonialisme dan Kekuasaan Lokal

Table of Contents

Romli Tobing: Pemuda sebagai Subjek Perubahan, Meneguhkan Idealisme di Tengah Arus Kekuasaan Lokal - BUANAJABAR.CO.ID


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Refleksi atas Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober menjadi momen krusial bagi generasi muda di Pandeglang, Banten. Momentum ini digunakan untuk mempertegas komitmen perjuangan mereka dalam menghadapi berbagai tantangan zaman yang terus berkembang. Di tengah pusaran globalisasi dan dominasi ekonomi oleh kekuatan modal besar, pemuda Pandeglang harus tetap teguh pada arah perjuangan dan mempertahankan kesadaran politik yang kritis.

Setiap generasi muda memikul tanggung jawab historis untuk menjaga kedaulatan bangsa dan berjuang demi terwujudnya kesejahteraan rakyat. Penting bagi pemuda untuk memahami kompleksitas tantangan yang dihadapi di era modern ini.

Neokolonialisme: Penjajahan Gaya Baru

Penjajahan kini tidak lagi berwujud kolonialisme klasik, tetapi hadir dalam rupa baru yang dikenal sebagai neokolonialisme. Neokolonialisme adalah sistem penindasan modern yang menjerat bangsa melalui ketergantungan ekonomi, politik, dan budaya.

Neokolonialisme bekerja secara halus, menjauhkan rakyat dari kontrol atas sumber daya mereka sendiri. Generasi muda seringkali terlena oleh hegemoni budaya konsumtif dan politik pragmatis.

Tantangan Lokal: Otonomi Desa dan Partisipasi yang Terpinggirkan

Di tingkat lokal, Kabupaten Pandeglang menghadapi tantangan yang serupa. Dalam sektor pembangunan daerah, khususnya di ranah otonomi desa, terlihat jelas bagaimana ruang partisipasi masyarakat semakin terpinggirkan.

Otonomi desa yang seharusnya menjadi wadah bagi inisiatif masyarakat justru kerap kali dibajak oleh kepentingan penguasa. Akibatnya, banyak kebijakan desa yang tidak lagi berpihak pada kebutuhan rakyat, melainkan diarahkan untuk mengamankan kepentingan politik jangka pendek.

Kondisi ini, seperti yang diungkapkan oleh Romli Tobing, alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), merupakan tamparan keras bagi kaum muda Pandeglang. Ia menyampaikan pandangannya pada Minggu, 26 Oktober 2025.

Pemuda: Garda Terdepan Perubahan

“Kondisi ini menjadi tamparan bagi kaum muda Pandeglang,” tegas Romli Tobing. Pemuda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam panggung politik yang diatur oleh elite.

Pemuda harus tampil sebagai penggerak perubahan, berani melawan ketidakadilan, memperjuangkan kemandirian desa, dan mengembalikan semangat pembangunan yang berorientasi pada kepentingan rakyat.

Politik sebagai Jalan Pembebasan

Romli Tobing menekankan pentingnya memahami politik bukan sebagai alat untuk merebut kekuasaan, melainkan sebagai jalan menuju pembebasan dan kesejahteraan sosial. Ini sejalan dengan nilai-nilai yang diwariskan oleh Bung Karno dan perjuangan GMNI.

Baca Juga: GEBRAK Gelar Aksi Simbolik di Jakpus: Penghormatan dan Protes

Marhaenisme mengajarkan bahwa kekuatan sejati bangsa terletak pada kemandirian rakyat, bukan pada ketergantungan terhadap modal asing atau elite penguasa.

Peran Penting Organisasi Kepemudaan dan Kemahasiswaan

Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan memiliki peran krusial dalam membangkitkan kesadaran dan semangat juang pemuda. Mereka harus keluar dari jebakan pragmatisme politik dan romantisme seremonial yang seringkali menggerogoti idealisme.

Kekuatan sejati pemuda lahir dari perpaduan rasionalitas dan nalar kritis yang ditempa dalam ruang-ruang diskusi, kajian, dan perdebatan ide. Inilah yang akan membentuk kader-kader bangsa yang berkualitas.

Mengisi Ruang Publik dengan Gagasan dan Keberanian Moral

Pemuda Pandeglang harus berani mengisi ruang-ruang intelektual dan publik dengan gagasan-gagasan segar, analisis yang tajam, serta keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran. Diskursus yang hidup akan menjadi senjata ampuh melawan pembodohan dan kemapanan yang menindas.

“Pemuda Pandeglang harus berani mengisi ruang-ruang intelektual dan publik dengan gagasan segar, analisis tajam, serta keberanian moral untuk menyuarakan kebenaran,” jelas Romli.

Menegaskan Kembali Semangat Sumpah Pemuda

Gerakan perubahan tidak akan muncul dari generasi yang pasif. Ia lahir dari semangat pemuda yang berani berpikir, berdiskusi, dan bertindak nyata.

Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan di Pandeglang harus menjadi laboratorium kesadaran, tempat ditempanya kader-kader bangsa yang progresif dan revolusioner.

Sumpah Pemuda bukan hanya sekadar peringatan sejarah, melainkan manifesto politik kebangsaan yang menolak segala bentuk penjajahan dan dominasi. Dalam konteks hari ini, semangat itu berarti menolak penindasan ekonomi, mengawal transparansi kebijakan desa, dan memperjuangkan pembangunan yang berkeadilan.

Membangun Pandeglang yang Berdaulat dan Berkeadilan

Pandeglang membutuhkan pemuda yang berani dan berpihak pada rakyat, bukan pemuda yang tunduk pada kekuasaan. Masa depan bangsa akan ditentukan oleh mereka yang berani bersuara, berpikir, dan bergerak bersama rakyat.

“Maka, mari kita kobarkan kembali semangat Sumpah Pemuda sebagai gerakan perlawanan terhadap neokolonialisme modern, dan sebagai tekad bersama untuk membangun Pandeglang yang berdaulat, mandiri, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya,” pungkas Romli Tobing.

Baca Juga

Loading...