Menangis Itu Sehat: Manfaat dan Cara Melepas Emosi yang Terpendam
RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Di Indonesia, menangis sering kali dianggap sebagai tanda kelemahan, terutama bagi pria. Namun, tahukah Anda bahwa menangis sebenarnya memiliki banyak manfaat untuk kesehatan mental? Melepaskan air mata sesekali justru bisa membantu menjaga keseimbangan emosional dan membuat Anda merasa lebih manusiawi.
Bayangkan betapa enaknya menjadi bayi yang bisa menangis kapan saja tanpa dihakimi. Mereka justru mendapatkan perhatian, diganti popoknya, dan ditenangkan. Sayangnya, sebagai orang dewasa, kita seringkali dituntut untuk tegar dan menahan emosi.
Mengapa Kita Menangis?
Menurut Dr. Alla Demutska, direktur klinis psikoterapi dan konseling di The School of Positive Psychology, menangis adalah pengalaman yang unik bagi manusia. Meskipun hewan mengeluarkan air mata untuk melindungi mata, hanya manusia yang menangis karena emosi.
Filosof Hippocrates bahkan berteori bahwa air mata adalah 'uap dari hati yang mendidih karena emosi'. Seiring bertambahnya usia, tangisan kita pun berevolusi dari sekadar sinyal kebutuhan dasar menjadi ekspresi emosi yang lebih kompleks.
Manfaat Menangis untuk Kesehatan Mental
Serene Lee, seorang psikoterapis dan pendiri pusat konseling ICCT.sg, menjelaskan bahwa menangis berfungsi seperti katup pengaman pada panci presto. Ia melepaskan perasaan tertekan seperti kesedihan, frustrasi, atau bahkan kebahagiaan.
Secara fisik, menangis membantu melepaskan hormon stres seperti kortisol dan prolaktin melalui air mata. Setelah menangis, tubuh akan terasa lebih rileks, detak jantung melambat, dan pernapasan menjadi lebih dalam, sehingga kita seringkali merasa lebih lega.
Menangis Karena Bahagia?
Pernahkah Anda menangis saat merasa sangat bahagia? Ini terjadi ketika sistem emosional Anda kewalahan oleh intensitas positif. Menurut Lee, jalur emosional di otak dapat tumpang tindih untuk kesedihan dan kebahagiaan, sehingga menangis menjadi outlet untuk emosi yang kuat.
Air mata kebahagiaan adalah cara tubuh melepaskan luapan emosi, bahkan jika itu positif. Ini juga berfungsi sebagai cara untuk mengungkapkan rasa syukur, kelegaan, atau hubungan yang mendalam.
Norma Sosial dan Tangisan
Studi menunjukkan bahwa wanita menangis lebih sering daripada pria, yaitu 30 hingga 64 kali per tahun, dibandingkan dengan pria yang hanya 5 hingga 17 kali. Namun, ini bukan semata-mata karena perbedaan biologis, melainkan karena norma sosial.
Lee menjelaskan bahwa rasa bersalah atau malu saat menangis seringkali berasal dari kondisi sosial dan norma gender. Wanita, terutama di lingkungan profesional, mungkin khawatir dianggap 'terlalu emosional' atau 'tidak profesional', sehingga mereka menekan keinginan untuk menangis.
Baca Juga: Arti Mimpi Orang Meninggal: Pertanda atau Sekadar Kembang Tidur?
Banyak pria juga diajarkan bahwa menangis adalah tanda kelemahan. Mereka menekan emosi untuk mempertahankan rasa kendali atau maskulinitas. Padahal, menangis adalah respons alami manusia dan bukan tanda kelemahan.
Kapan Tangisan Menjadi Tidak Sehat?
Dr. Demutska menekankan bahwa menangis hanyalah salah satu alat dalam kotak regulasi emosi Anda. Tidak semua orang harus menangis agar sehat. Beberapa orang memproses emosi secara efektif melalui cara lain, seperti aktivitas fisik, ekspresi kreatif, atau strategi kognitif.
Namun, menangis juga bisa menjadi tidak sehat jika frekuensi atau intensitasnya mengganggu fungsi sehari-hari, memengaruhi hubungan, atau disertai dengan pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Menangis tanpa alasan yang jelas berulang kali dapat mengindikasikan kesulitan dalam memahami emosi atau proses disosiatif.
Jika Anda terus-menerus merasa ingin menangis tanpa merasa lega setelahnya, ini bisa menjadi tanda depresi, gangguan kesedihan berkepanjangan, atau respons trauma. Bahkan, perasaan ingin menangis adalah salah satu kriteria diagnosis untuk gangguan depresi mayor.
Cara Aman untuk Melepas Tangisan
Lee menyarankan untuk tidak merencanakan kapan dan di mana Anda harus menangis. Biarkan air mata datang secara alami ketika perasaan muncul. Yang penting adalah memberi izin pada diri sendiri untuk menangis, bukan memikirkan frekuensinya.
Banyak orang merasa aman untuk menangis di kamar mandi atau di tempat tidur di rumah karena privasi. Stephen Lew Chien Hau dari The School of Positive Psychology menambahkan bahwa alam juga merupakan lingkungan yang cocok karena hubungan simbiosis kita dengannya.
Alam mengingatkan kita tentang keberadaan kita dan bahwa kita adalah bagian dari alam semesta yang lebih besar. Alam adalah neurobioregulator yang membantu kita membumi dan menyembuhkan.
Jika Anda lebih suka lingkungan yang aman, Anda bisa memesan ruang karaoke pribadi yang kedap suara dan menangis sambil bernyanyi. Atau, jika Anda ingin memanjakan diri sambil menangis, Anda bisa memesan kamar hotel, memesan makanan, dan berendam di bathtub.
Jadi, jangan takut untuk menangis. Melepas air mata adalah cara alami dan sehat untuk memproses emosi dan menjaga kesehatan mental Anda. Jika Anda merasa kesulitan mengelola emosi, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apakah menangis selalu baik untuk kesehatan mental?
Menangis dapat membantu melepaskan emosi dan mengurangi stres, tetapi tidak selalu menjadi solusi tunggal. Jika menangis terlalu sering atau tidak terkendali, itu bisa menjadi tanda masalah kesehatan mental yang lebih serius.
Bagaimana cara membedakan tangisan yang sehat dan tidak sehat?
Tangisan yang sehat biasanya memberikan rasa lega setelahnya, sedangkan tangisan yang tidak sehat mungkin disertai dengan perasaan putus asa, mati rasa, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Kapan saya harus mencari bantuan profesional terkait masalah emosi saya?
Jika Anda merasa kesulitan mengendalikan emosi, sering menangis tanpa alasan yang jelas, atau merasa putus asa, segera cari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater.
Apa saja cara lain untuk mengelola emosi selain menangis?
Ada banyak cara lain untuk mengelola emosi, seperti olahraga, meditasi, journaling, berbicara dengan teman atau keluarga, atau mencari bantuan profesional.
Apakah ada perbedaan antara menangis pada wanita dan pria?
Secara biologis, wanita memiliki kadar prolaktin yang lebih tinggi, yang dapat memicu tangisan. Namun, perbedaan utama terletak pada norma sosial yang memengaruhi bagaimana wanita dan pria diizinkan untuk mengekspresikan emosi mereka.