Stasiun KRL-MRT Dukuh Atas Sepi: Dampak WFH dan Potongan Tarif MRT

Table of Contents

Stasiun KRL-MRT Dukuh Atas Lengang Pagi Ini Usai Imbauan WFH


Kondisi di Stasiun Sudirman pagi ini tampak begitu berbeda dari biasanya. Keramaian khas jam sibuk kerja seolah sirna, tergantikan dengan suasana yang lebih tenang. Penumpang KRL tak perlu lagi berdesakan atau mengantre panjang untuk melakukan tap out di akses keluar stasiun. Perubahan ini menjadi pemandangan menarik, khususnya setelah adanya imbauan untuk bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) yang diterapkan di berbagai perusahaan di Jakarta.

Pantauan detikcom pada Senin, 1 September 2025, suasana di dalam Stasiun Sudirman memang jauh lebih lengang. Kereta yang tiba dan berhenti untuk menurunkan penumpang juga tidak dipenuhi lautan manusia seperti hari-hari kerja biasanya. Hal ini menunjukkan dampak langsung dari kebijakan WFH yang mulai terasa signifikan pada mobilitas warga Jakarta.

Perjalanan Penumpang: Dari KRL ke MRT

Tidak banyak penumpang yang turun di Stasiun Sudirman, yang merupakan stasiun integrasi dengan berbagai moda transportasi publik lainnya. Namun, masih ada sebagian penumpang yang harus tetap masuk kantor, meskipun kebijakan WFH telah diterapkan. Sebagian dari mereka terlihat melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Stasiun MRT Dukuh Atas untuk menuju lokasi kantor mereka. Menariknya, Stasiun MRT Dukuh Atas juga tampak sepi, mengikuti kondisi serupa yang terjadi di Stasiun Sudirman.

Pengalaman Penumpang: Andika dan Realita di Lapangan

Salah satu contoh nyata adalah pengalaman Andika (23), warga Depok yang harus berangkat kerja ke kantornya di kawasan Jalan Sudirman. Andika mengaku bahwa di kantornya tidak ada imbauan untuk WFH, sehingga ia tetap harus masuk kerja seperti biasa. "Nggak ada imbauan (WFH) dari kantor, disuruh masuk, masih full ngantor," ujar Andika saat ditemui di lokasi.

Andika yang berangkat dari Stasiun Istora Mandiri juga merasakan perbedaan signifikan pada kondisi MRT pagi ini. Ia tidak perlu berdesakan di dalam kereta seperti biasanya. Selain itu, ia juga merasakan manfaat dari potongan harga yang diterapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. "Lumayan sepi, biasanya desak-desakan di pagi hari, tadi longgar," kata Andika. Ia juga menambahkan, "Tadi tarifnya kepotong Rp1 yang biasanya 5 ribu, pulang pergi 10 ribu."

Dampak WFH dan Potongan Tarif: Sebuah Analisis

Kondisi lengang di Stasiun KRL-MRT Dukuh Atas menunjukkan dampak langsung dari kebijakan WFH terhadap mobilitas warga Jakarta. Kebijakan ini, jika diterapkan secara konsisten, berpotensi mengurangi kepadatan di transportasi publik dan kemacetan lalu lintas. Selain itu, potongan tarif MRT yang dirasakan Andika juga menjadi insentif tambahan bagi warga untuk menggunakan transportasi publik. Ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mendorong penggunaan transportasi publik yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Potensi Perubahan Perilaku

Perubahan perilaku penumpang, seperti yang dialami Andika, dapat menjadi tren positif. Jika lebih banyak perusahaan yang menerapkan kebijakan WFH, diharapkan kepadatan di transportasi publik dapat berkurang secara signifikan. Hal ini tidak hanya meningkatkan kenyamanan penumpang, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dan peningkatan kualitas udara di Jakarta.

Tonton juga video "Kerusakan Stasiun MRT Istora Mandiri Imbas Kericuhan" di sini:

Baca Juga

Loading...