Kronologi Penculikan Kepala Cabang Bank BUMN: Peran Kopda FH Terungkap

Table of Contents

4 Hari Krusial Sebelum Kepala Cabang Bank BUMN Ditemukan Tewas, Ada Peran Kopda FH Rencanakan Penculikan


Kasus penculikan dan pembunuhan kepala cabang bank BUMN, MIP, memasuki babak baru. Polisi telah menetapkan 15 tersangka dalam kasus yang menggemparkan ini.

Salah satu yang menarik perhatian adalah keterlibatan seorang anggota TNI berpangkat Kopda, FH, yang diduga merencanakan penculikan tersebut. Berikut adalah rangkuman kejadian krusial selama empat hari sebelum korban ditemukan tewas.

Awal Mula Perencanaan Penculikan

Kasus ini bermula ketika Kopda FH merekrut Eras untuk melakukan 'penjemputan paksa' terhadap korban, MIP. FH menghubungi Eras pada 18 Agustus 2025, menawarkan pekerjaan dengan jaminan keamanan.

Keduanya diketahui sudah lama saling mengenal. FH menjanjikan bahwa korban akan diantar kembali setelah 'dijemput'.

19 Agustus 2025: Pertemuan di Jakarta Timur

Sehari setelah panggilan telepon, Kopda FH dan Eras bertemu di Jakarta Timur. Di sana, Eras dan beberapa orang lainnya mendapatkan penjelasan detail mengenai target operasi mereka, yaitu MIP, kepala cabang sebuah bank BUMN.

Mereka diberi tahu mengenai peran masing-masing dalam aksi yang akan dilakukan.

20 Agustus 2025: Pemantapan Skenario di Percetakan Negara

Keesokan harinya, pada 20 Agustus 2025, Eras kembali bertemu dengan FH di sebuah kafe di daerah Percetakan Negara. Pertemuan ini bertujuan untuk mematangkan skenario penculikan.

FH menjelaskan bahwa setelah korban berhasil 'dijemput', Eras harus menyerahkannya kepada 'tangan kanan bos'. FH juga meyakinkan bahwa ada tim lain yang mengawasi korban.

Eksekusi Penculikan di Kramat Jati

Pada hari yang sama, sekitar pukul 10.00 WIB, FH mendapat informasi bahwa korban berada di sebuah pusat perbelanjaan di kawasan Kramat Jati. Eras dan timnya segera menuju lokasi tersebut.

Mereka tiba sekitar pukul 11.30 WIB dan menunggu di dalam mobil. Pukul 16.00 WIB, korban terlihat menuju mobilnya. Eras dan komplotannya langsung beraksi.

Baca Juga: Ferry Irwandi Respons TNI: Siap Hadapi Dugaan Tindak Pidana, Ide Tak Bisa Dipenjara

Penyergapan dan Penyerahan Korban

Korban disergap, ditarik paksa, dan didorong masuk ke mobil pelaku yang terparkir di sebelah mobil korban. Mobil pelaku langsung melaju kencang meninggalkan area parkir.

Awalnya, korban direncanakan akan diserahkan di daerah Fatmawati, namun FH mengarahkan ke Tanjung Priok. Eras menolak dan mengusulkan Kemayoran sebagai lokasi penyerahan.

Sekitar pukul 18.55 WIB, korban diserahkan kepada FH dan 'tangan kanan bos' di lokasi yang disepakati. Korban kemudian dibawa oleh orang yang disebut sebagai kepercayaan bos.

Pembayaran dan Keterkejutan Eras

Malam harinya, sekitar pukul 19.30 WIB, Eras dan komplotannya bersama FH menuju kawasan Arcici, Cempaka Putih. Di sana, FH menyerahkan uang tunai sebesar Rp45 juta sebagai imbalan atas 'pekerjaan' mereka.

Setelah menerima bayaran, kelompok Eras membubarkan diri dan kembali ke tempat tinggal masing-masing. Eras kemudian terkejut ketika mengetahui bahwa korban yang mereka 'jemput paksa' ternyata telah meninggal dunia.

Eras mengetahui kabar duka tersebut setelah Satreskrim Polres Mabar menunjukkan foto korban. Eras mengaku syok dan berusaha menghubungi FH, namun tidak berhasil.

Kuasa hukum Eras, Adrianus Agal, mendesak agar kasus ini segera disidangkan untuk mengungkap aktor intelektual, perencana, dan eksekutor pembunuhan ini.

FAQ

Berapa jumlah tersangka dalam kasus ini? Terdapat 15 tersangka yang telah ditetapkan oleh polisi.

Siapa Kopda FH? Kopda FH adalah anggota TNI yang diduga berperan sebagai perencana penculikan.

Berapa bayaran yang diterima Eras dkk? Mereka menerima Rp45 juta setelah menyerahkan korban.

Baca Juga

Loading...