Geger! Rencana AS: Trump Ingin Kelola Gaza 10 Tahun, Warga Direlokasi?

Kabar mengejutkan datang dari pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Dilaporkan bahwa Trump sedang mempertimbangkan sebuah rencana pascaperang yang ambisius untuk Jalur Gaza. Rencana tersebut, yang terungkap melalui laporan media terkemuka AS, The Washington Post, pada Minggu (31/8/2025) lalu, menggemparkan dunia. Inti dari rencana ini adalah AS akan mengambil alih kendali atas wilayah kantong Palestina tersebut, dengan konsekuensi besar bagi penduduk Gaza.
AS Ambil Alih Gaza: Apa Saja Isi Rencananya?
Menurut laporan yang dilansir dariAFPdanAl Arabiyapada Senin (1/9/2025), rencana kontroversial ini mencakup beberapa poin utama. Yang paling mencolok adalah relokasi seluruh penduduk Gaza. Seluruh warga Gaza yang berjumlah sekitar dua juta jiwa, akan dipindahkan. Pemindahan ini akan dilakukan, baik secara sukarela ke negara lain, maupun ke zona aman yang terbatas di dalam Gaza selama proses rekonstruksi berlangsung. Selain itu, AS berencana mengelola Gaza melalui sistem “trusteeship” atau perwakilan selama setidaknya 10 tahun. Sistem ini memungkinkan pihak ketiga mengelola wilayah untuk kepentingan penduduk setempat.
Visi “Riviera Timur Tengah” dan Peran Teknologi
Tujuan dari rencana ini, menurut The Washington Post, didasarkan pada visi Trump untuk mengubah Gaza menjadi “Riviera Timur Tengah”. Hal ini berarti mengubah Gaza menjadi resor wisata dan pusat teknologi tinggi. Prospektus setebal 38 halaman yang menguraikan rencana ini juga menyebutkan pemberian “token digital” kepada warga Gaza yang memiliki tanah. Token ini akan menjadi imbalan atas hak mereka untuk mengembangkan properti mereka. Token tersebut nantinya dapat digunakan untuk memulai hidup baru di tempat lain, atau ditukarkan dengan apartemen di salah satu dari delapan “kota pintar bertenaga AI” yang direncanakan akan dibangun di Gaza.
Reaksi dan Tanggapan Terhadap Rencana Kontroversial
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari Gedung Putih terkait laporan tersebut. Namun, laporan ini muncul setelah Trump memimpin rapat besar membahas rencana pascaperang untuk Gaza. Sayangnya, Gedung Putih tidak mengeluarkan pernyataan atau mengumumkan keputusan apa pun setelah rapat tersebut. Rencana ini, jika benar-benar diterapkan, akan berdampak besar pada kehidupan warga Gaza dan berpotensi mengubah dinamika politik di kawasan tersebut.
GREAT Trust: Badan Pengelola Gaza
Laporan The Washington Post juga mengungkap nama badan yang akan mengelola Gaza di bawah rencana AS tersebut, yaitu “Gaza Reconstitution, Economic Acceleration, and Transformation Trust”, atau disingkat “GREAT Trust”. Proposal ini disusun oleh beberapa pihak dari Israel yang juga terlibat dalam Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF), sebuah organisasi yang menyalurkan bantuan makanan ke Gaza. Namun, GHF telah banyak dikritik karena dianggap tidak netral.
Rencana ini menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran. Apakah relokasi akan bersifat sukarela atau paksa? Bagaimana nasib mereka yang tidak memiliki tanah? Bagaimana dengan hak-hak warga Gaza? Pertanyaan-pertanyaan ini harus segera dijawab agar rencana ini tidak menimbulkan lebih banyak ketidakpastian dan penderitaan bagi warga Gaza. Situasi di Gaza telah menjadi perhatian dunia internasional sejak perang pada Oktober 2023 yang menghancurkan banyak wilayah, dan rencana baru ini hanya akan semakin menambah kompleksitas masalah yang ada.
Untuk informasi lebih lanjut, Anda dapat menyaksikan video “Trump Desak Akhiri Perang di Gaza, Dorong Jalur Diplomatik”.
Dan jangan lewatkan juga video “Donald Trump Komentarin Pertunangan Taylor Swift-Travis Kelce Nih”.