Analisis: Kegagalan Timnas U-23 ke Piala Asia, Kesit Ungkap Penyebabnya
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,598,20,0)/kly-media-production/medias/5340283/original/063516000_1757169317-20250906AA_Indonesia_U-23_vs_Macau-10_2.JPG)
Impian Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-23 untuk kembali berpartisipasi dalam Piala Asia U-23 harus kandas. Kekalahan tipis 0-1 dari Korea Selatan U-23 dalam pertandingan terakhir kualifikasi yang digelar di Stadion Delta, Sidoarjo, pada Selasa, 9 September 2025, menjadi penentu nasib skuad Garuda Muda.
Pengamat sepak bola nasional, Kesit Budi Handoyo, memberikan pandangannya terkait kegagalan ini. Ia menyoroti beberapa aspek fundamental yang menjadi pekerjaan rumah bagi sepak bola Indonesia, meskipun ada peningkatan performa yang diapresiasi.
Penyebab Kegagalan: Inkonsistensi dan Kualitas Lawan
Kesit Budi Handoyo menyoroti penampilan Timnas Indonesia U-23 dalam tiga pertandingan Grup J sebagai indikasi jelas penyebab kegagalan. Tim asuhan pelatih Gerald Vanenburg tersebut menghadapi Laos, Macau, dan Korea Selatan. Menurut Kesit, pertandingan melawan Laos seharusnya menjadi fondasi kuat, namun justru menunjukkan inkonsistensi taktik dan mentalitas.
Imbang Lawan Laos: Awal yang Kurang Meyakinkan
Laga pembuka melawan Laos, yang di atas kertas dianggap sebagai lawan termudah, hanya menghasilkan hasil imbang tanpa gol. Permainan yang ditampilkan jauh dari harapan, dengan para pemain kesulitan menembus pertahanan lawan yang rapat. Finishing yang kurang tajam dan koordinasi serangan yang belum padu menjadi sorotan utama dalam pertandingan tersebut.
Kemenangan Atas Macau: Kualitas Lawan yang Berbeda
Meskipun berhasil meraih kemenangan telak 5-0 atas Macau, Kesit mengingatkan bahwa kualitas Macau jauh di bawah Indonesia. Kemenangan tersebut tidak dapat dijadikan tolok ukur yang jelas untuk mengukur kualitas permainan terbaik dari Timnas Indonesia U-23.
Kekalahan dari Korea Selatan: Kesenjangan Kualitas yang Nyata
Pertandingan penentu melawan Korea Selatan menjadi ujian sesungguhnya bagi Timnas Indonesia U-23. Meskipun bermain dengan semangat juang tinggi, kesenjangan kualitas antara kedua tim sangat terlihat. Korea Selatan, dengan pemain-pemain yang terorganisir dan terbiasa bermain di level tinggi, mampu mendominasi jalannya pertandingan. Serangan-serangan sporadis dari Timnas Indonesia U-23 kerap kali dengan mudah dipatahkan oleh pertahanan Korea Selatan yang disiplin.
Analisis Kesit: Performa yang Kurang Gereget dan Tantangan Pembinaan
Kesit Budi Handoyo secara tegas menyatakan bahwa kegagalan Timnas U-23 ke Piala Asia U-23 2026 adalah hal yang wajar. Menurutnya, penampilan yang kurang gereget sejak awal menjadi penyebab utama. Ia menyoroti kegagalan meraih kemenangan atas Laos sebagai tanda awal kesulitan yang akan dihadapi.
“Menurut saya wajar, timnas U-23 gagal ke Piala Asia U-23 karena penampilannya kurang gereget. Di awal tidak mampu meraih kemenangan lawan Laos yang sebelumnya diprediksi akan menang mudah atau harus dimenangkan, itu sebagai tanda bahwa timnas U-23 akan mengalami kesulitan pada laga-laga selanjutnya,” ujar Kesit kepada Bola.com pada Kamis, 11 September 2025.
Tantangan dalam Pembinaan Sepak Bola Indonesia
Lebih lanjut, Kesit menekankan bahwa kegagalan ini mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam pembinaan sepak bola Indonesia. Selain masalah teknis seperti finishing dan efektivitas serangan, kurangnya kedalaman skuad dan mentalitas saat menghadapi tim unggulan juga menjadi faktor penentu.
Pentingnya Kemenangan di Fase Kualifikasi
Kesit juga menyoroti pentingnya meraih kemenangan sejak awal di fase kualifikasi. Ia menjelaskan bahwa untuk lolos sebagai runner-up terbaik, Timnas Indonesia U-23 harus meraih poin maksimal. Hal ini karena tim-tim lain di grup lain yang menempati posisi runner-up memiliki raihan poin yang lebih tinggi.
“Jadi, ya pantas gagal karena memang performa tidak meyakinkan sejak awal. Dengan penampilan seperti itu, akan sangat sulit untuk bisa bersaing. Kesalahan pertama ketika Indonesia tidak mampu meraih kemenangan lawan Laos karena persaingan kualifikasi Asia 2026 ini sangat ketat,” tegas Kesit.
Dengan demikian, kegagalan Timnas Indonesia U-23 ke Piala Asia U-23 2026 menjadi pelajaran berharga. Evaluasi menyeluruh terhadap berbagai aspek, mulai dari taktik, mentalitas, hingga pembinaan pemain muda, sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sepak bola Indonesia di masa mendatang.
Sumber: bola.com