Pedagang Curhat, Pasar Tertua Jakarta Semakin Sepi

Table of Contents

Pedagang Curhat, Pasar Tertua Jakarta Semakin Sepi


Pedagang Curhat, Pasar Tertua Jakarta Semakin Sepi

Foto: Kondisi Pasar Jatinegara di Jakarta Timur mulai lengang, Jumat (4/7/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah pedagang di Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, mengungkapkan mereka masih bertahan walau jumlah pengunjung terus menyusut. Faktor utama yang membuat mereka enggan tutup atau pindah adalah kebutuhan hidup sehari-hari.

Rima, penjual sepatu, menyatakan bahwa proses pindah tempat usaha tidak mudah karena harus memulai dari nol, sementara nasibnya belum tentu lebih baik dibanding di pasar saat ini. "Ya bagaimana lagi, tuntutan hidup. Kalau tutup, kami bagaimana bisa hidup, bagaimana kami makan. Kalau pindah toko pun belum tentu nasibnya lebih bagus dari yang sekarang, dan kami mungkin berpikir lagi, sewanya berapa, bayar listriknya berapa," ungkap Rima saat ditemui di lapak kerjanya.

Walau jumlah pembeli sudah menurun, Rima masih memiliki beberapa pelanggan setia. Ia berharap masyarakat yang nyaman berbelanja secara langsung mau kembali datang. "Di toko fisik, pembeli bisa mencoba sepatu lebih dulu. Itu yang membuat saya masih optimis bertahan," tambahnya.

Sementara itu, Taslim, pedagang pakaian di pasar yang sama, memilih tetap berjualan untuk mengisi hari tuanya. Meski omsetnya sudah jauh menurun, Taslim merasa aktivitas berdagang membuatnya tetap semangat. "Kalau kita tutup, terus menganggur, banyak penyakit datang. Ya jalani saja hidup, kalau sudah tua seperti saya, ya diisi dengan aktivitas seperti ini," ujarnya.

Meskipun pendapatan menurun, Taslim masih menyisihkan sebagian hasil penjualan untuk dibagikan pada karyawan. Ia bercerita, "Sehari bisa dapat Rp 2 juta, sudah bersyukur banget. Ambil 10% untuk keuntungan, dibagi ke karyawan. Ya sudah, syukuri saja, jangan kebanyakan mengeluh."

Dia juga memanfaatkan penjualan online untuk menjangkau pelanggan yang mulai beralih ke platform digital. "Pelanggan memang berkurang, tapi sebagian tetap memesan lewat online, jadi kami lanjutkan saja," kata Taslim.

Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia pada Jumat (4/7/2025), kondisi Pasar Jatinegara tak sepenuhnya sunyi. Area depan di Jalan Matraman Raya masih relatif ramai, demikian pula lantai basement, dasar, dan lantai 1 di gedung utama. Namun, tingkat kunjungan menurun drastis di lantai 2, dan hampir seluruh ruko di lantai 3 sudah tutup.

Pasar Jatinegara, atau yang dulu dikenal sebagai Pasar Mester, tercatat sebagai pasar tertua di ibukota. Situs resmi Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jakarta menyebutkan, pada 1661 Meester Cornelis Senen, seorang guru agama Kristen keturunan Portugis, membeli sebidang lahan di bantaran Kali Ciliwung dan menjadikannya pusat perdagangan. Seiring waktu, nama Meester berubah menjadi Mester, lalu setelah era kolonial berganti, dinamakan Jatinegara, yang berarti "Negara Sejati."

Baca Juga

Loading...