Ozzy Osbourne Wafat di Usia 76, Penyakit Parkinson Diduga Jadi Faktor Utama

Dunia musik, khususnya ranah heavy metal, berduka atas kepergian salah satu ikon paling berpengaruhnya, John Michael Osbourne, yang lebih dikenal dengan julukan legendaris Ozzy Osbourne. Musisi yang dijuluki "Bapak Heavy Metal" ini dikabarkan menghembuskan napas terakhirnya pada usia 76 tahun, Selasa, 22 Juli 2025.
Kabar duka ini sontak menyelimuti jutaan penggemar di seluruh penjuru dunia yang telah tumbuh dan berinteraksi dengan karya-karya revolusioner sang vokalis Black Sabbath, baik sebagai solo artis maupun bersama band pionirnya.
Kepergiannya tidak hanya menandai berakhirnya satu era, tetapi juga meninggalkan lubang besar dalam industri musik, kehilangan seorang entertainer yang karismatik dan tak tertandingi.
Perjalanan Kesehatan dan Permintaan Privasi Keluarga
Selama beberapa tahun terakhir, kesehatan Ozzy Osbourne memang menjadi sorotan publik. Sejak tahun 2019, ia diketahui hidup dengan diagnosis penyakit Parkinson, sebuah kondisi neurologis progresif yang memengaruhi gerakan, keseimbangan, dan koordinasi.
Selain itu, mendiang juga menghadapi serangkaian tantangan kesehatan lainnya, termasuk cedera tulang belakang serius yang diakibatkan oleh terjatuh dan riwayat kecelakaan sebelumnya yang memperparah kondisi fisiknya. Berbagai kondisi ini, secara kumulatif, diyakini telah berkontribusi terhadap penurunan kesehatannya.
Namun, meskipun riwayat medisnya menjadi pengetahuan umum, pihak keluarga Osbourne memilih untuk tidak merinci penyebab pasti wafatnya. Dalam pernyataan resmi yang dirilis melalui platform X pada Rabu, 23 Juli 2025, keluarga mengungkapkan duka yang mendalam.
"Dengan kesedihan yang tak terlukiskan, kami harus melaporkan bahwa Ozzy Osbourne tercinta telah meninggal dunia pagi ini (waktu setempat)," demikian bunyi pernyataan tersebut. Keluarga juga menambahkan bahwa mendiang berada bersama orang-orang terkasihnya dan dikelilingi oleh limpahan kasih sayang pada saat-saat terakhirnya.
Mereka secara tegas memohon kepada publik dan media untuk menghormati privasi yang sangat dibutuhkan keluarga di masa berkabung ini. Permintaan ini mencerminkan keinginan untuk memproses kehilangan mendalam jauh dari sorotan yang terus-menerus, demi kebaikan dan kedamaian mereka bersama di tengah tragedi.
Kehilangan Ozzy Osbourne bukan hanya sekadar berakhirnya satu nyawa, melainkan hilangnya seorang seniman yang karyanya telah membentuk identitas genre musik global dan memengaruhi tak terhitung banyaknya musisi lainnya.
Meski penyebab pastinya masih menjadi ranah pribadi keluarga, perjuangan panjangnya melawan penyakit Parkinson dan cedera fisik lainnya telah menjadi bagian dari narasi hidupnya, menunjukkan ketahanan luar biasa di balik panggung. Warisan musik dan karisma panggungnya akan terus hidup, menginspirasi generasi musisi dan penggemar di seluruh dunia.
Semoga legenda rock ini beristirahat dalam damai, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketenangan dalam menghadapi masa sulit ini.