Home / NASIONAL / Pengalaman 3 Hari Mengikuti UKW di LPDS Jakarta Oleh Mawardi Pemimpin Redaksi RAKYAT MEDIA
meizu

Pengalaman 3 Hari Mengikuti UKW di LPDS Jakarta Oleh Mawardi Pemimpin Redaksi RAKYAT MEDIA

JAKARTA, RAKYATMEDIAPERS.CO.IDPengalaman mengikuti Uji Kompetensi (UKW) jenjang wartawan utama di Lembaga Pers Dr. Soetomo Lantai III Gedung Dewan , Jakarta, selama tiga hari, 06-08 April 2018. Dengan tim penguji dari Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS), Jakarta dan Dewan Pers, menambah pengalaman dan pengetahun, bisa juga membuat badan panas dingin.

Sebelumnya, seperti puluhan peserta lainnya, saya juga tegang dan cemas. Bukan karena hanya memikirkan beratnya materi ujian. Tapi betapa malunya, kalau materi ujian yang diberikan kepada saya tak bisa saya jawab di depan penguji. Saya pasti akan dicap sebagai Pemimpin Redaksi abal abal. Apalagi, pada materi ujian rapat perencanaan redaksi, saya diangkat sebagai Pemimpin Redaksi, menjadi beban berat buat saya apabila tidak bisa saya laksanakan didepan peserta dan penguji.

Dari 40 orang peserta yang terdiri dari berbagai media cetak maupun online, 17 orang diantaranya peserta jenjang wartawan utama, 8 orang jenjang wartawan Madya dan 10 orang jenjang wartawan muda. Namun dari jumlah peserta yang hadir  ada juga yang menghibur. “Kita semua jangan tegang harus semangat, kita ini semua pemimpin redaksi, masak tak lulus? Kalau tak lulus, berarti UKW-nya yang salah, bukan kita,” celetuk salah seorang peserta yang diketahui sebagai  Pemred media online.

Memang betul, UKW bisa membuat makan tak enak dan tidur tak nyenyak, pertanyaan tentang UKW mulai sedikit terjawab ketika semua perserta berkumpul dalam sebuah ruangan lantai tiga gedung LPDS, ada delapan penguji. Wajah mereka serius, sesekali senyum.“Tak ada jaminan semua lulus. Ujian sebelumnya, banyak juga peserta yang tak lulus,” kata Priyambodo RH, Direktur Eksekutif LPDS, yang merangkap sebagai penguji.

Candaan kocak Mas Bob panggilan akrab Priyambodo, tak bisa mengalahkan ketegangan para peserta. Priyambodo menjelaskan tata cara ujian, materi UKW, penilaian, dan penentuan lulus atau tak lulus. Peserta dibagi dalam kelompok kecil, 8 sampai 9 peserta dengan dua penguji setiap kelompok.

Materi ujian kali ini, Ada 8 materi yang diujikan: memimpin rapat redaksi, mengevaluasi rencana liputan, menentukan bahan liputan layak siar, menulis opini/tajuk, mengarahkan liputan investigasi, kebijakan/merancang rubrikasi, jejaring dan lobi. Nilai minimal lulus masing-masing materi 70, dengan skala 0-100. “Kalau 69 berarti tak lulus. Penilaian akhirnya bukan rata-rata. Tak lulus satu, berarti semua gugur,’ kata Priyambodo.

Penjelasan yang disampaikan Mas Bob membuat peserta semakin tegang, bagi peserta yang tak puas dengan penilaian penguji, boleh menggugat. Tim LPDS akan membahas dan memberi nilai baru. Bisa nilai tetap sama, lebih tinggi, atau justru lebih rendah. Masih tak puas juga, peserta dapat mengajukan banding ke Dewan Pers. “Pengalaman sebelumnya, justru nilai penggugat lebih rendah,”ujar Priyambodo.

Sebelumnya, Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar, memberikan penjelasan latar belakang, dan legalitas UKW. Ia banyak memberi contoh betapa pentingnya UKW, dasar hukum, serta manfaat UKW untuk perlindungan wartawan.  Setelah itu, masing-masing penguji mengumumkan peserta yang akan diuji. Saya bersama 8 pemred, diuji oleh AA. Ariwibowo.

Kompetensi penguji yang satu ini tak perlu diragukan. Ia adalah salah seorang penguji yang sangat berpengalaman dan berkompoten. Ia juga seorang wartawan senior yang sudah melanglang buana ke berbagai negara seperti melakukan investigasi di Hongkong. Dari dua penguji ini, Ariwibowo dikenal penguji paling pelit memberi nilai.

Ujian pertama dimulai dengan materi rapat redaksi, setelah makan siang. Tiga kelompok kecil dikumpulkan dalam satu ruangan. Beberapa orang dipilih sebagai pemimpin rapat, yang lainnya diminta menyampaikan usulan dan masukan, untuk materi liputan yang disimulasi dalam rapat. Sementara itu, para penguji hanya memantau, dan tentu saja memberi penilaian.

Yang dinilai, sejauh mana peserta aktif memberi masukan. Akibatnya dapat ditebak, semua peserta berebut untuk bicara. Saking antusiasnya, “Ini bukan rapat redaksi, tapi seperti rapat partai saja,” kata salah seorang peserta lainnya.

Ujian berlanjut ke materi kedua. Kali ini yang diuji adalah mengevaluasi rencana liputan. Di sini, masing-masing peserta diminta menjelaskan, dan memverifikasi  usulan liputan yang muncul dalam simulasi rapat redaksi. Di kelompok saya, ada empat usulan liputan, Ekomi, kriminal dan hukum, hiburan. Namun yang ditonjolkan saat simulai redaksi kasus penangkapan Narkoba di Batam yang menjadi kasus utama.

Saya tentu saja menjelaskan bahwa kasus penangkapan Narkoba di Batam yang menjadi porsi utama, selain yang terbesar, kasus ini menjadi sorotan secara nasional karena terkait penyelamatan generasi muda dari jeratan narkoba. Setelah satu demi satu peserta diuji, dilanjutkan ke materi ketiga: menentukan bahan liputan layak siar.

Pertanyaan kunci penguji adalah, bagaimana menentukan berita layak atau tidak? Apa saja indikatornya? Pada materi ini, dari kelompok saya para peserta dapat menjelaskan, meskipun terputus putus. Pada hari kedua, ujian berlangsung lebih rileks. Tak ada lagi wajah peserta yang stres. Materi uji dimulai dengan menulis opini/tajuk. Peserta diberi waktu 30 menit menulis di laptop masing-masing, dan disuruh langsung mencetak dengan printer yang telah disediakan. Memakai peralatan kerja ini juga menjadi penilaian.

Selanjutnya, materi uji mengarahkan liputan investigasi. Jenis ujiannya masih tertulis. Peserta diberi waktu 30 menit untuk membuat semacam term of reference (TOR) liputan investigasi. Isinya tema liputan investigasi, wartawan yang ditugaskan, rincian biaya, deadline, dan upaya perlindungan wartawan. Penguji juga menanyakan beda investigasi dengan liputan mendalam (indepth news).

Pada materi ini, sejumlah peserta ada yang mengeluh. Sebab, di sejumlah media masalah biaya bukan urusan redaksi atau pemred, tapi dihitung dan diputuskan oleh bagian keuangan.

Lalu, ujian berlanjut ke materi membuat opini/tajuk rencana. Yang diuji adalah pengji memberikan materi yang sudah dipersiapkan tentang Direktorat Jendral Perumahan, Kementeruan Pekerjaan Umum dan Pemukiman Rakyat (PUPR) memberikan bantuan rumah kepada masyarakat.

Pada materi ini, setelah sempat rileks, para peserta kembali dibuat “panas dingin”, ada beberapa peserta yang tak mempu menyelesaikan tepat waktu. Bahkan, sempat disuruh membuat ulang opini dan tajuk tersebut. Kemudian berlanjut ke materi materi jejaring dan lobi. Di sini, peserta diminta menghubungi langsung narasumber utama. Kapasitas dan jabatan narasumber menjadi penilaian. Menteri atau wakil menteri, misalnya, akan berbeda dari bupati. Kapolda nilainya akan lebih tinggi dari Danrem. Makanya peserta berusaha mengajukan nama yang jabatannya lebih tinggi. Kalau bisa presiden.

Yang membuat stres: kalau narasumber tak mengangkat telepon, berarti tak dapat nilai.  Tak dapat nilai tentu tak lulus. Pada materi ini dikelompok saya, ada juga peserta yang tak punya nara sumber. Bahkan ketika nara sumber dihubungi, justru nara sumber balik bertanya ini siapa?.

Saya sendiri diminta penguji mengajukan lima nama. Saya memilih Kepala Kantor Wilayah Hukum dan HAM Kepri Drs. Bambang Widodo, Staf Khusus Gubernur Kepri H Saidul Kudri, Kepala Bagian Penindakan Ditjen Imigrasi Drs. Hongki Juamda, Konsul Jendral RI Johor Baru Haris Nogroho dan Kepala Biro Kementerian Kominfo Drs. Guntur Sakti.

Kebetulan Saya mendapat “kemudahan”. Saya disuruh memilih sendiri narasumber yang akan dihubungi. Setelah memastikan bahwa ke lima narasumber itu bernilai sama ke penguji, saya memilih menelpon Staf Khusus Gubernur Kepri H Saidul Kudri, saya suksek begitu saya telpon pak Saidul kemudian Drs.bambang Widodo, kedua nara sumber itu langsung mengangkat telpon saya.

UKW diakhiri dengan penyampaian evaluasi dan nilai oleh masing-masing penguji. Salah seorang penguji yang juga Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar mengaku senang ketika mengetahui peserta UKW sempat tegang. Sebab, dengan begitu peserta akan mengikuti UKW secara serius.

Kalian kira saya tidak tegang? Saya malah lebih dulu merasakan itu dari kalian. Bayangkan, Saya harus menguji semua Pemred. Apa tidak tegang? Saya sampai bolak-balik ke toko buku menambah referensi. Jadi saat UKW, giliran kalian yang tegang,” tutur Djauhar. (rm/red)

Komentar

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Check Also

Pengalaman 3 Hari Mengikuti UKW di LPDS Jakarta

Pengalaman mengikuti Uji Kompetensi (UKW) jenjang wartawan utama di Lembaga Pers Dr. Soetomo Lantai III …

Wakil Ketua Dewan Pers Ahmad Djauhar : Polisi Tak Boleh Sembarang Panggil Wartawan

JAKARTA, RAKYATMEDIAPERS.CO.ID-Menyikapi adanya penangkapan dan pemanggilan oleh Polisi terkait kasus pemberitaan seperti kasus dua wartawan …