Home / KEPRI / PPDB Sistem Zonasi Ribuan Calon Didik Baru Tak Tertampung
meizu

PPDB Sistem Zonasi Ribuan Calon Didik Baru Tak Tertampung

BATAM,RAKYAT MEDIA—sepertinya sudah menjadi tradisi,dari tahun ke tahun penerimaan calon siswa/i  baru atau lebih dikenal dengan penerimaan peserta didik baru (PPDB) selalu bergejolak.   Berbagai metode  diujicobakan dalam penerimaan peserta didik baru ini, mana yang lebih pas agar tidak menimbulkan lagi gejolak.    Namun tetap saja muncul,  terutama dari  dari para orang tua calon siswa/I  yang tidak diterima di sekolah,  tentunya ke sekolah negeri.

Di berbagai media, baik cetak, elektronik maupun media online,  permasalahan penerimaan peserta didik baru telah terexpos  setiap tahun ajaran baru  yang  terkadang sampai  membeberkan kelemahan-kelemahan maupun permasalahan yang muncul.  Sayangnya,  belum ada metode paling tepat untuk mencari solusi terbaik,  setidaknya meminimalisir gejolak atau keluhan para orangtua yang anaknya tidak tertampung di sekolah negeri.

Khusus untuk tahun ajaran baru 2018/2019  mulai dari  SD, SMP, SMA/SMK  untuk PPDB  diberlakukan system  zonasi.   Artinya, calon siswa baru  yang diterima diutamakan calon siswa/i  yang berdomisili   berdekatan dengan lokasi sekolah mencapai  jumlahnya mencapai 90 persen dari jumlah siswa baru.  Sisanya 10 persen untuk  tiga jalur penerimaan,  yaitu  jalur  penerimaan luar zonasi,  jalur prestasi dan jalur  miskin.     Khusus jalur miskin,  sepertinya lebih banyak dari  jalur  prestasi dan jalur luar zonasi.  Di  SMP 47 dan SMP 9 misalnya,  jumlah siswa/i  dari jalur miskin diterima sebanyak  25 orang.  Sementara dari jalur siwa berprestasi   13 orang, jalur luar zonasi 12 orang.  .

Keluhan-keluhan yang muncul dari orangtua siswa, yang  anaknya tidak diterima di sekolah negeri  kendati tempat tinggalnya berdekatan dengan sekolah, kerap mempertanyakan efektifitas system zonasi itu.  Namun ternyata diketahui, kendati menerapkan zonasi, namun untuk diterima, tetap berdasarkan NEM  atau nilai rata-rata yang diperoleh dalam Ujian Akhir sekolah  (UAS).

Untuk UAS SD sendiri terdiri dari 3 mata pelajaran, yaitu  bahasa Indonesia, Matematika dan IPA (ilmu Pengetahuan Alam).  Orangtua siswa yang tempat tingalnya berdekatan dengan sekolah, tentu berharap,  anaknya otomatis diterima, tanpa memperhatikan  nilai rata-rata yang diperoleh anaknya.  Dari  sistem zonasi tersebut tidak berlaku otomatis anaknya diterima  di sekolah yang dituju jika memang  nilai  rata-rata  ujian nasional  3 mata pelajaran diatas rendah.

Sebaliknya, untuk nilai rendah hanya berlaku bagi PPDB dari jalur miskin.  Khusus bagi PPDB dari jalur miskin, memang amat menarik.  Sebab dari pengatamatn media ini,  ada calon siswa diterima  dengan jumlah nilai hanya dengan jumlah 140,40.  Jika hanya dengan jumlah nilai 140 koma sekian, dibagi tiga pelajaran yang diujikan,  tentu nilai rata-ratanya tidak sampai 50. .   Sementara calon siswa dengan sistem zonasi misalnya nilai rata-ratanya 67 tidak  diterima.   Disinilah  muncul kecemburuan besar  dari para orangtua.   Sebab diketahui, dengan system zonasi,  menerapkan minimal nilai rata-rata 70.   Melihat perbedaan mencolok  antara jalur  zonasi  dengan jalur miskin,  wajar orangtua yang anaknya dengan system zonasi yang anaknya tak diterima kendati nilai  rata-rata 67 atau mendekati 70, sangat kecewa .

Lantas,  apakah sistem zonasi itu efektif  diibandingkan  tahun sebelumnya dengan sistem rayonisasi.  Untuk kedepan, bagi orangtua yang anaknya tidak diterima berpendapat,   harus dipertimbangkan dan dikaji ulang mana yang lebih efektif,  apalagi  selalu muncul isu  masih adanya   anak didik baru titipan dari oknum-oknum tertntu.  Munculnya isu tersebut disebabkan  pengumuman  kelulusan tidak sesuai dengan jumlah yang diterima.  Misalnya SMP X misalnya,  dalam papan pengumumnan disebut menerima siswa baru 252 orang.

Ternyata  saat pengumuman keluar,  nama yang muncul hanya 225 oprang dari jalur zonasi, , jalur ,miskin,  , jalur luar zonali dan jalur presstasi.  .Lantas  yang menjadi pertanyaan para orangtua yang anaknya tidak diterima, dari 252 yang diterima ternbyata hanya 225 yang muncul,  kemana yang 27 orang lagi.  Nah, yang 27 inilah kemudian disebut-0sebut merupakan titipan  pknum tertentu dan dimasukkan saat akan memulai pelzjaran baru.  Tetapi pihak sekolah membantahnya bahwa yang 27 itu nantinya untuk calon siswa yang tidak diterima dari bina lingkungan.  Artinya siswa yang mendaftar yang tidak ada namanya di antara 225 itu yang berdomisili di lingkungan sekolah tersebut.  Keluhan-keluhan tersebut muncul sampai saat ini pasa pengumuman Sabtu (7/7) lalu hingga berlanjut pengaduan ke DPRD.

Bommen Hutagalung, anggota DPRD Kota Batam kepada sejumlah wartawan menyebut, sudah ratusan orangtua calon siswa/i yang tidak diterima anaknya di sekolah Negeri mengadu kepadanya.  Para orangtua, kata anggota DPRD  dari Fraksi PDI-P itu menjelaskan,  umumnya mengeluhkan system zonasi itu dimana banyak calon siswa tidak diterima. Namun dari prokontra efektifitas system zonasi tahun ajaran 2018/2019,  memang mayoritas menyebut,sudah cukup bagus dibandingkan system rayonisasi tahun-tahun sebelumnya.  Sebab diketahui, system rayonisasi tahun sebelumnya diketahui, banyak anak didik baru titipan dari oknum-oknum tertentu.  Untuk tahun system zonasi titipan dari oknum tertentu sangat kecil, kata sejumlah oranaagtua  anak didik baru di SMP 47 kepada media ini.

Hanya saja, perlu lagi perbaikan di tahun aaa-tahun selanjutnya,  seperti rendahnya nilai rata-rata untuk jalur miskin, seharusnya harus lebih dinaikkan untuk menghindari kecemburuan dari orangtua yang anaknya tidak diterima, kata salahj seorang Ibu yang tak mau menyebut jati dirinya.  Informasi terakhir yang diterima media ini, nantinya  tepat pada dimulainya tahun ajaran baru yaitu  Senin (16/7)  akan ada penambahan peserta anak didik baru  di beberapa SMP maupun SMASMK yang tidak diterima,   terutama dari lingkungan  sekolah  atau dikenal  dengan  bina lingkungan.  Hanya saja, sejumlah orangtua yang anaknya tidak diterima berharap, kiranya pihak sekolah mengutamakan dari bina lingkungan, atau anak didik yang berdekatan dengan sekolah.

Penulis : Arifin Marbun

Editor : Mawardi

 

Komentar

BERIKAN KOMENTAR ANDA

Check Also

Irjen Pol Andap Budhi Revianto Kapolda Kepri yang Baru

BATAM, RAKYAT MEDIA-Irjen Pol Andap Budhi Revianto, S.I.K bakal segera menggantikan Irjen Pol Didid Widjanardi …

Proyek Semenisasi Dinas Perumahan, Permukiman dan Pertamanan Kota Batam Dikerjakan Asal Jadi

BATAM, RAKYATmediapers.co.id-Aroma adanya permainan kongkalikong terkait pelaksanaan proyek pada tahun 2018 di Dinas Perumahan Rakyat, …