Penonaktifan BPJS PBI Ancam Nyawa Anak-Anak Pejuang Kanker

Table of Contents

Kebijakan Pemerintah yang Mengancam Anak-anak Kanker


RAKYATMEDIAPERS.CO.ID - Kebijakan penonaktifan kepesertaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN BPJS Kesehatan memicu kekhawatiran serius bagi pasien kanker anak di Jawa Barat. Kebijakan ini dinilai mengancam kelangsungan pengobatan medis yang bersifat krusial dan tidak boleh terhenti.

Dewi Nurjanah, pemilik Rumah Pejuang Kanker Ambu di Kota Bandung, mengungkapkan bahwa dampak kebijakan tersebut sudah memakan korban. Afzal Atalah, seorang bocah berusia 3 tahun asal Garut, mendadak tidak bisa mengakses layanan rumah sakit karena status BPJS-nya tiba-tiba nonaktif.

Dampak Nyata di Rumah Pejuang Kanker Ambu

Peristiwa yang menimpa Afzal dilaporkan terjadi pada Senin (9/2/2026) saat ia hendak menjalani prosedur medis rutin. "Baru satu pasien yang ketahuan saat mau ke rumah sakit, jangan sampai ada yang terdampak lagi," ujar Dewi atau yang akrab disapa Ambu.

Saat ini, Rumah Pejuang Kanker Ambu menampung 23 anak dan 8 remaja yang tengah berjuang melawan berbagai jenis kanker. Ratusan pasien datang silih berganti setiap tahunnya untuk mendapatkan pendampingan selama masa pengobatan di Bandung.

Pasien-pasien tersebut berasal dari berbagai wilayah di Jawa Barat dan mengandalkan rujukan ke sejumlah rumah sakit besar. Destinasi pengobatan meliputi RSHS, RS Welas Asih, RS Cicendo, RS Hermina, dan RS Sentosa untuk menjalani kemoterapi.

Risiko Keterlambatan Jadwal Kemoterapi

Penyakit yang ditangani di rumah singgah ini didominasi oleh kasus leukemia dan tumor ganas yang membutuhkan penanganan medis intensif. Mayoritas pasien berasal dari keluarga tidak mampu yang sepenuhnya bergantung pada skema BPJS PBI yang dibiayai pemerintah.

Ambu menegaskan bahwa kemoterapi memiliki jadwal ketat yang menyangkut keselamatan nyawa pasien anak dan tidak boleh ditunda. Jadwal tersebut biasanya dilakukan minimal seminggu sekali selama 8 hingga 9 bulan pertama pengobatan.

Penonaktifan PBI yang memaksa keluarga beralih ke jalur mandiri dianggap bukan solusi karena beban biaya bulanan yang sangat memberatkan. Hal ini dikhawatirkan akan memicu keluarga pasien untuk menghentikan pengobatan secara sepihak karena kendala ekonomi.

Desakan untuk Pemerintah Terkait Aspek Kemanusiaan

Ambu memohon agar pemerintah segera meninjau ulang kebijakan penonaktifan ini demi mempertimbangkan dampak kemanusiaan yang ditimbulkan. Ia menekankan bahwa banyak obat-obatan kanker yang sudah tidak tercover, sehingga jangan ditambah dengan beban iuran mandiri.

Kondisi ini memerlukan solusi cepat agar jadwal medis pasien yang sudah ditentukan dokter tidak terganggu oleh urusan administrasi. Tanpa jaminan kesehatan yang aktif, masa depan penyembuhan anak-anak pejuang kanker di Jawa Barat kini berada dalam ketidakpastian.



Pertanyaan Umum (FAQ)

Siapa yang paling terdampak oleh penonaktifan BPJS PBI ini?

Pasien kanker anak dari keluarga tidak mampu, salah satunya Afzal Atalah (3 tahun) asal Garut yang terhambat pengobatannya.

Mengapa kemoterapi tidak boleh ditunda karena masalah administrasi BPJS?

Kemoterapi memiliki jadwal ketat yang menentukan keberhasilan pengobatan dan keselamatan nyawa pasien; penundaan dapat memperburuk kondisi kanker.

Rumah sakit mana saja yang menjadi rujukan pasien dari Rumah Pejuang Kanker Ambu?

Pasien biasanya dirujuk ke RSHS, RS Welas Asih, RS Cicendo, RS Hermina, dan RS Sentosa di wilayah Bandung dan sekitarnya.



Ditulis oleh: Dewi Lestari

Baca Juga

Loading...