Momen Haru Sarwendah: Abu Jenazah Sang Ayah Dilarung dalam Upacara Intim

Duka mendalam menyelimuti artis Sarwendah menyusul berpulangnya sang ayah tercinta, Hendrik Lo. Setelah proses kremasi yang penuh haru di Grand Heaven Jakarta Utara, kini tiba saatnya untuk prosesi pelarungan abu jenazah.
Momen sakral ini dijadwalkan berlangsung sore hari ini, menandai perpisahan terakhir Sarwendah dan keluarga besar dengan almarhum dalam sebuah upacara yang sangat pribadi dan penuh makna.
Menurut penuturan Sarwendah kepada awak media di Jakarta Utara, upacara pelarungan abu jenazah sang ayah akan dilaksanakan secara 'intimate'. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan. Sarwendah menjelaskan bahwa keterbatasan kapasitas kapal yang telah disewa menjadi faktor utama. Kapal tersebut hanya mampu menampung maksimal 70 orang.
Kondisi ini secara otomatis membatasi jumlah pelayat yang bisa turut serta dalam pelarungan, sehingga prioritas diberikan sepenuhnya kepada keluarga inti dan beberapa sahabat terdekat almarhum atau keluarga.
Upacara Perpisahan yang Khidmat dan Penuh Makna
Kondisi ini membuat Sarwendah harus menyampaikan pengertian kepada kerabat dan teman-teman yang mungkin berharap dapat ikut serta. "Mungkin yang lebih intimate (prosesi larung) karena kapalnya juga cuma muat 70 orang," ujar Sarwendah dengan nada suara yang pilu. Dia menambahkan, "Jadi, sudah dibilang enggak bisa ikut semua.
Keluarga saja kan keluarga besar, jadi hanya beberapa temannya saja." Penjelasan ini menggarisbawahi betapa pentingnya menjaga kekhusyukan acara, serta fokus pada kualitas kehadiran dan dukungan moral dari mereka yang paling dekat dengan almarhum dan keluarga yang ditinggalkan.
Prosesi pelarungan abu jenazah ke laut seringkali dianggap sebagai bentuk pelepasan dan pengembalian jasad ke alam, sebuah ritual yang memiliki makna spiritual mendalam bagi banyak kepercayaan.
Meskipun diliputi kesedihan, Sarwendah dan keluarganya tampak berusaha tegar menghadapi momen perpisahan yang terakhir ini. Upacara pelarungan yang terbatas pada lingkaran keluarga dekat ini diharapkan dapat memberikan ruang yang lebih tenang bagi mereka untuk merenungkan kenangan indah bersama almarhum, serta saling menguatkan dalam suasana duka.
Ini adalah babak terakhir dari perjalanan duka Sarwendah dalam melepas kepergian ayahanda tercinta, sebuah perpisahan yang akan selalu terukir dalam ingatan mereka.